Selasa, 11 Desember 2012

Indahnya berlaku sebagai hamba


Bermula dari melihat, mendengar, merenungkan dan akhirnya saya niatkan menuangkan gagasan dalam tulisan.  Sempatkah teman-teman menyaksikan kehidupan seorang nenek tua sudah berumur 97 tahun, hidup sebatang kara, suami yang dicintainya sudah lama meninggal dunia. Suami yang dicintainya tidak pernah sekalipun melakukan tidur bersama layaknya suami istri, sehingga tidak ada keturunan dari keduanya. Indahnya, mereka tetap saling mencintai selama hidupnya, suami sayang dengan istri, setia menjalani beratnya kehidupan, sehingga si istri memutuskan tetap setia hingga usianya yang renta. Alasan dari seorang perempuan tua yang sebatang kara : suami saya setia, bagaimana saya tega menikah lagi dengan pria lain?;  saya sudah ditolong Allah, diberi makan oleh Allah, umur saya lama sampai sekarang juga karena Allah, nanti saya juga akan dimatikan oleh Allah; SUBHANALLAH).
Perempuan tua, hidup sebatang kara, mendapatkan nafkah dari tumpukan pakaian dan sepatu bekas yang dijual di gubuk bawah jembatan yang sekaligus sebagai tempat tinggalnya. Bisa terbayang, yang membelipun dari kaum yang susah hidupnya, tidak heran, harga setiap pakaian bekas yang dijualnya rata-rata hanya senilai Rp. 1000/potong. Hari itu ada yang membeli, uangnya digunakan untuk membeli makanan; sebaliknya jika hari itu tak ada seorangpun pembeli, bisa dua-tiga hari, ibu tua kita tak mendapatkan makanan.  Tidak ada dalam benaknya meminta belas kasihan kepada sesama. Namun manakala teman sesamanya meminta pertolongan padanya (Contoh, menukar sepatu bekas yang dimiliki ibu tua; dengan serta merta wajah yang sudah berkerut memperlihatkan perasaan bahagia mempersilahkan memilih sendiri). Keikhlasan yang luar biasa. Indah sekali….
Tetapi bagaimana dengan kita : Sudah diberi nikmat lebih oleh Allah, namun bagaimana jawaban dan tindakan kita bila ada ujian datang dari ALLAH melalui perilaku manusia. Sudahkah kita memposisikan diri sebagai seorang hamba. Yang terjadi sering diri ini menjadi merasa sudah (kaya, senior, pejabat, orang terpandang), sehingga orang lain harus melayani kita, menghormati kita. Menjadi sangat tersinggung harga dirinya manakala ada yang meremehkan, mengkritik, atau  hal yang lain yang tidak menyenangkan hatinya. Siapa sebenarnya jasad ini tanpa pertolongan ALLAH menutupi aib hidup kita??? Jawaban ada di diri kita masing-masing.  Sejauh manakah kita belajar dari kehidupan ibu tua kita yang sudah renta, yang memposisikan dirinya menjadi seorang hamba.
Seorang hamba akan selalu mengusahakan dalam setiap langkahnya dengan 5 S; yaitu (S1) selalu berusaha memberi Senyuman kepada sesama dibalik kesusahan hidupnya, (S2) berlaku Santun terhadap orang yang dikenal, maupun belum dikenal, (S3) Sabar dalam menghadapi ujian kehidupan, (S4) selalu berusaha berlaku Simpatik, dan (S5) selalu berusaha Secepatnya menyelesaikan tugas dan tanggungjawab yang diembannya.  
Apabila ada benar dan manfaat datangnya dari ALLAH, salah pemikiran, tulisan semata-mata keterbatasan diri saya, mohon maaf dan diikhlaskan. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar